Teddy Bear Holding A Heart Balloon

Jumat, 07 November 2014

Sebagian Harapanku


Cerpen : Nur Dini Nuri R

Cast                 : Dafa
                          Riska
                          Tami
***

Hampir 1 tahun berlalu, mengapa aku tak bisa melupakannya ? apa mungkin aku masih mengharapkannya ? atau… aku masih menyimpan rasa sayang terhadapnya? Entahlah, yang pasti jujur, aku masih mengharapkan sosoknya yang dulu selalu menemani hari-hariku. “Tegar” mungkin aku sedang belajar dari kata itu, 5 huruf, 1 kata tetapi artinya luar biasa.
“kau yakin sudah move on?”
“sepertinya iya tam, tapi.. saat ini aku sering kembali teringat dia”
“yaelaah..ngapain cowo kaya gitu di pertahanin? Tunjukin kalo kamu bisa tanpa dia”
“caranya?”
“dengan menjalin cinta yang baru”
Aku kaget dengan saran sahabatku yang satu ini. Apa mungkin dengan aku menjalin cinta kembali dengan laki-laki lain, aku akan lupa dengan semuanya? Termasuk lupa dengan dia ? aiiiish kenapa sahabatku ini tak mengerti aku sih .
“hoy..kamu ngelamun ya ris?”
“eu…eum engga ko tam”
Dia mengagetkanku di sela-sela lamunanku yang sedang memikirkan sarannya yang tadi.


 Pandanganku tertuju pada sesosok laki-laki di seberang sana. Siapa yang tak mengenal dia. Sosok pria yang mempunyai postur tubuh tinggi dan berkulit sawo matang itu memakai kacamata. Walau banyak wanita yang mengatakan dia culun, tetapi dengan gaya berpakaian yang rapi, membuat dia di idolakan para wanita di sekolah ini, lihat saja, pasti banyak sepasang mata yang sedang melihatnya berjalan. Dengan  otaknya yang pintar dan selalu menjadi juara umum di sekolah semakin meyakinkan kalau dia sosok yang selama ini di damba-dambakan oleh semua wanita, mungkin. Termasuk aku sendiripun mengagumi sosoknya, oops..aku kembali terkaget sendiri ketika sedang memandangi pria yang bernama lengkap Dafa Arya Nandana itu.
Cowo yang kerap disapa Kak Dafa itu memang terbilang sangat ramah dan cukup dekat dengan ku, aku pun tak mengerti ketika aku sudah melihat sosoknya, aku pun langsung lupa dengan mantanku yang masih aku harapkan. Perlahan Kak Dafa menghampiriku yang sedang duduk berdua dengan sahabatku Tami di bangku dekat lapangan basket sekolahku. Dengan mengetahui dia yang semakin mendekat ke arahku, akupun berpura-pura membaca novel yang saat itu aku pinjam dari perpustakaan.
“lagi baca apaan ris” ucapnya duduk di sebelahku. Semua mata yang tadi menatap kak dafa indah, dengan cepat berubah menjadi tatapan sinis kepadaku ketika kak dafa duduk di sebelahku dan memberikan sebotol minuman yang ia keluarkan di dalam tas nya .
“makasih kak, ini aku lagi baca novel” ucapku gugup dengan menatap ragu matanya.
“tips move on dengan cepat” ucapnya membaca judul buku novel yang sedang aku taruh di pahaku. Akupun menyembunyikan dengan cepat buku tersebut.
“mati aku” ucapku dalam hati.
“minuman buat aku mana kak” seru tami memulai pembicaraan. Fiuuuuuh untunglah tami mengerti dan cepat peka.
“hah?…kaka gatau kalo ada kamu disini, jadi kaka beli minumannya buat riska doang hehe maaf ya ”
“yaah kaka, kalo sama riska aja selalu inget, lha sama aku? boro-boro” ucap tami cemberut dan berdiri kemudian meninggalkan aku dan kak dafa.
“tami tunggu….” Ucapku berteriak dengan memandang tami yang berlari. Aku bermaksud mengejarnya tetapi tangan kekar di sampingku menahanku untuk mengejar tami.
“ris, bisa ikut kaka ?” ucapnya dengan tatapan serius.
“ke- kemana ka?” ucapku gugup.

Ia pun menariku dan akupun mengikutinya dengan meninggalkan minuman yang tadi ia beri untuku di bangku itu. Dengan menaiki motor ninja nya, kak dafa terlihat keren, aaaggrrhh aku mulai melamun lagi.
“ayo naik”
Deg…. Jantungku keras sekali berdetak. Aku malu jika kak dafa mendengar bunyi detak jantungku yang sekarang. aku pun tanpa banyak bicara, mulai naik dan duduk dengan kembali mengontrol detak jantungku supaya lebih tenang.
 Aku dan Tami memang menyukai kak dafa sejak 1 tahun terakhir ini, kakak kelas yang ramah dan tidak sombong kepada adik kelasnya.  rasa suka tami kepada kak dafa tak lebih dari seorang kakak, tapi aku? apakah rasa sukaku sama dengan tami? Mulutku berkata iya tetapi hatiku……. Tidak. Jujur aku memang menyukainya, dan ingin menjadi pacarnya, tapi itu hayalan semata. Seringnya aku dan dia bertukar cerita, mau itu tentang cinta, keluarga, teman atau apalah, dan membuatku mengetahui sebagian kehidupannya.
***
Saat itu jam menunjukan pukul 04.00 sore. Langit mulai terlihat mendung, tak lama hujan perlahan mulai turun, akupun refleks menutupi kepalaku dengan tanganku. Kak dafa hanya focus melajukan motornya.
“kak dafa ingin bawa aku kemana? Sepertinya ini arah menuju taman yang baru, yang kemarin di ceritakan tami kepadaku” ucapku dalam hati.
Hujan semakin besar dan kak dafa memutuskan untuk mencari tempat untuk kami berteduh terlebih dahulu. Kami berhenti di sebuah toko yang memang lumayan banyak pengendara motor yang berteduh disana. Dengan seragam putih-abu yang sedikit basah, Akupun duduk di bangku yang ada saat itu sambil menatap hujan dengan sesekali mengusap-ngusapkan kedua tanganku supaya lebih hangat. Raut wajahku sedikit gelisah, karna memang hari mulai sore dan semakin mendekati malam. Tetapi aku belum pulang dan takut orang rumah khawatir kepadaku.
Kak dafa tersenyum dan membuka jaketnya yang saat itu ia kenakan. Dan memakaikannya ke badanku. Aku terkejut dan menatapnya.
“ma-maaf” ucapnya menggaruk kepala bagian belakangnya salting.
“lho, kok kaka buka jaket sih, ini pake aja buat kaka, aku gapapa kok” ucapku perlahan membuka jaket, tapi kak dafa menahanku.
“gapapa ris, pake aja. Maaf yah gara-gara kaka ajak kamu jalan, jam segini kamu belum pulang, karena hujan di tengah jalan” ucapnya .
“makasih kak” ucapku membetulkan jaket yang menempel di badanku. “gapapa kak, emang kakak mau ajak aku kemana?” lanjutku penasaran.
“hm….tadinya sih mau ajak kamu ke taman itu” sambil menunjukan jari telunjuknya. “tapi karna hujan, lain kali aja gapapa kan? Kalo ujannya reda, kaka antar pulang aja, kasian takut keburu malem” ucapnya lagi.
“…” akupun hanya tersenyum, masih sambil menggosok-gosokkan tanganku dengan sesekali meniupnya.
kak dafa menatapku sambil menggosok-gosokkan tangannya. Tanpa aku ketahui, kak dafa menempelkan tangannya di tanganku. Tanganku yang saat itu bergerak, seketika diam dan mataku menatap matanya. Tinggi ku memang lumayan jauh dari kak dafa, hanya sebatas pundaknya, makanya aku harus sedikit mengadahkan kepalaku untuk bisa menatapnya kalau jarakku dengannya berdekatan seperti sekarang ini. Tak ada mata yang menatap sinis ke arahku karna perlakuan kak dafa ini, karna ini di luar sekolah. coba kalau di sekolah, mungkin aku sudah di hujani kata-kata kotor oleh fans-fans kak dafa.
orang-orang yang sedang berteduh memang berada sedikit jauh dengan tempat berdirinya aku dan kak dafa saat ini. 
“hangat?” ucap kak dafa mengagetkanku.
“hangat kak” ucapku menatapnya dengan memberi senyuman. Nyaman, itulah rasanya. Seperti dulu, aku pun pernah merasakan perasaan seperti ini ketika sedang bersama mantanku. Kak dafa perlahan mendekatkan wajahnya ke wajahku, ia mulai memejamkan matanya. Deg…..jantungku pun kembali berdetak kencang. Tuhaaaan apa yang akan dia lakukan? semakin bibirnya mendekat, tiba-tiba daaaaaaaaaaaaaaaar suara kilat mengagetkanku dan akupun membenamkan wajahku ke dada bidangnya  refleks sampai aku melepaskan pegangan tanganku dengannya. Beberapa detik aku membenamkan wajahku ke dada bidangnya, akupun kembali ke posisi awalku tadi, kak dafa terlihat salah tingkah dengan perlakuannya tadi.
“ma-maaf kak” ucapku membenamkan jaket yang seperti mau terlepas. Kak dafa hanya diam dan menatap hujan di depannya masih dengan muka polos saltingnya. Waktu masih berjalan, hampir 1 jam kami berteduh, dan langit pun sepertinya belum puas mengeluarkan air matanya. Rasa kesal menunggu, membuat orang-orang yang sedang berteduh Perlahan memaksakan diri untuk pulang menerobos hujan. Akupun sesekali menatap jam tangan yang saat itu aku kenakan, resah karna hari mulai menuju malam, tetapi hujan pun masih belum reda. Baju yang saat itu kami kenakanpun mulai kering, tandanya kami sudah lama berada di sini.
“Tuhan, redakan lah hujannya” do’a ku dalam hati.
Sepertinya Tuhan mendengarkan do’a ku, tak lama hujannya pun sedikit reda. Kak dafa pun memutuskan untuk mengantarkan ku pulang dan tak jadi ke taman tersebut.
Dengan kecepatan 40 km kak dafa melajukan motornya. Satu tangan kak dafa memegang tanganku dan mengarahkannya ke perutnya.
“pegangan ris, kakak mau ngebut” ucapnya sedikit teriak. Akupun yang mendengar perkataan kak dafa menganggukan kepalaku dan perlahan melingkarkan tanganku ke perutnya. Akupun seperti memeluknya dari belakang. Kak dafa mulai ngebut karna hari sudah malam. Tersenyum, nyaman, itulah yang aku rasakan setiap kali aku bersamanya. 20 menit perjalanan , akhirnya sampai di rumahku, akupun langsung turun.
“maaf yaaaah” ucapnya mengacak rambutku yang agak basah karna kehujanan.
“gapapa kak, santai aja” ucapku sedikit tersenyum.
“kalau gitu kakak pulang yah”
“iya..hati-hati kak”
Akhirnya kak dafa pun pulang, akupun masuk dan dengan cepat mengganti bajuku.
“Ya ampun ini kan jaket kak dafa, kenapa aku bisa lupa ngembaliin sih“ ucapku ketika aku menatap diriku di cermin yang berada di kamarku. Akupun langsung mengambil hp yang saat itu berada di tasku dan bermaksud untuk member tahu kak dafa soal jaketnya, tetapi dia lebih dulu mengirim sms kepadaku.
From : Kak Dafa
“Jaketnya pake terus ya ris, biar kamu ga kedinginan..hehe”
Kak dafa membuatku salting, akupun tersenyum dan menaruh hp ku di dadaku untuk beberapa detik, akupun membalas smsnya.
To : Kak Dafa
“makasih kak, lusa aku kembalikan yah, soalnya mau di cuci dulu besok”
Drrrrrrt…….drrttt.. hpku kembali bergetar
From   : Kak Dafa
“tak apa ris, simpen aja hehe langsung istirahat ya ris({})”

Emoticon peluk? Omaygat apa ini maksudnya?

***
Matahari perlahan naik dan mulai menampakan cahaya nya, menyinari bumi dengan cahaya hangatnya. Sudah sebulan terakhir ini kak dafa memberikan perhatian lebih kepadaku yang membuat aku senang dan membuat aku berfikir kak dafa memiliki perasaan yang sama sepertiku.

 Aku kembali melaksanakan rutinitasku di pagi hari, setiap sebelum pergi keluar untuk sarapan , aku terlebih dahulu membereskan kamarku. Ketika aku ingin membereskan bantal, aku mendekati meja kecil di samping tempat tidurku dan disana tersimpan fotoku bersama putra mantanku itu. Akupun mengambilnya dan duduk di tepi tempat tidurku, dengan menatap foto kami (aku dan putra). Lucu sekali yah? sampai saat ini, akupun masih belum bisa melupakannya. Air mataku menetes seketika. Omaygat , akupun langsung menghapusnya dan kembali menaruh foto itu ke tempat semula.
“riska…cepat nak sarapan, nanti keburu siang loh”
“iyaa mah, sebentar”
**
“halloooooo riskaaaaa” sapanya teriak. Ya . dia memang sahabatku dari smp, tami memang selalu begitu, teriak memanggil namaku ketika ia melihatku sudah sampai di gerbang. Aku hanya melemparkan senyuman dari kejauhan dan melambaikan tanganku.
Jam pelajaan hari ini memang tidak terlalu padat, otomatis jam pulang pun menjadi lebih awal, aku bermaksud menghampiri kak dafa yang hari ini sedang berolah raga. Aku membeli sebotol minuman untuk ku kasihkan kepada kak dafa, 
“kak daf………..” teriakan ku terhenti ketika  aku berlari menuju ke lapang, pemandangan di depanku kini membuat ku terdiam, kak dafa sedang dipeluk seorang wanita yang memakai seragam bebas. Walaupun dia tidak membalas pelukannya tetapi teman-teman yang saat itu berada di lapangan menyorakinya dengan senang. Ketika kak dafa melihat ku yang sedang memperhatikannya, dia mencoba melepaskan pelukan wanita itu, tetapi Wanita itupun terlihat semakin erat.
Dengan perasaan sakit, aku berlari meninggalkan sekolah karna jam pelajaran sudah selesai. Tanpa sadar, langkah kakiku menuntunku ke sebuah taman. Disana yang terlihat ramai sekali orang yang sedang menghabiskan waktu weekend nya. Akupun mencoba mencari tempat duduk yang kosong dekat pohon rindang itu. Dengan perasaan kecewa dan derai air mata yang perlahan menetes di pelupuk mataku, aku tertunduk.
“hiks…hiks..kenapa kamu lakukan itu kak, kenapa?” ucapku, aku langsung menatap air minum itu dan membuangnya keras.
“kenapa kau membuangnya?” suara berat seorang laki-laki yang tak asing lagi buatku terdengar dari belakang. Aku tahu itu kak dafa, memang tebakan ku tak salah. Mengapa dia datang kesini? Bukannya dia sedang berpelukan mesra di lapangan tadi?
“kau marah sama kaka?”
Suara beratnya kembali terdengar. Terdengar dari langkah kakinya, sepertinya dia menghampiriku, aku berdiri sambil memyilangkan tangan di dadaku.
“tidak” ucapku singkat.
“ris…”
“udahlah kak” ucapku memotongnya. “aku tau kaka hanya menganggapku sebagai adik kan? Sama kaya kaka nganggap tami. Tak mungkin kaka memiliki perasaan yang sama kaya aku, aku yang bodoh kalo berharap lebih sama kaka, tami selalu menyarankanku untuk move on dari mantanku dan menjalin cinta sama kaka, tapi…tapi…hiks” air mataku kembali keluar.
“riska…kaka bisa jelasin semuanya” ucapnya menghampiriku dan kini kami bertatapan.
“apa yang mau kaka jelaskan? Kaka mau bilang kalau wanita itu pacar kaka? Atau calon istri kaka ? apa yang satu bulan terakhir itu kak ? perhatian kaka ke aku Cuma nganggap adik doang kak ? iya? Iya? … jawab ka” ucapku menangis memukul-mukul pelan dadanya.
“riska…”
“kakak pembohong, semua cowo sama aja”
“riska….”
“kaka sama aja kaya mantan aku yang bisanya Cuma nyakitin aku doang”
“riska cukup!!!”
Ucapnya dengan nada tinggi dan menghentikan tanganku yang sedari tadi memukuli pelan dadanya. Aku terdiam dan memalingkan tatapan matakku dari matanya.
“ketika kaka mulai dekat dengan ku sebulan terakhir ini, itu membuatku berfikir kalau kaka punya rasa yang sama kaya aku, tapi setelah aku melihat kaka dan wanita itu berpelukan kaya tadi, entah kenapa aku merasakan sakit yang teramat sangat. Aku seperti bunga yang tiba-tiba layu kak”
“kamu awalnya menjadikan kaka sebagai pelarian doang kan? Kamu dekat dengan kakak, kamu hanya ingin cepat lupa dengan mantan kamu? Iya kan? Hah? Jawab jangan diam aja!!!” ucap nya dengan nada tinggi yang membuat aku takut. Karna baru kali ini aku melihatnya semarah ini.
“iya! Aku hanya menganggap kaka sebagai pelarian doang kak, puas? Hah?” ucapku tak kalah tegas , dan melepaskan tanganku yang di pegang keras olehnya. Aku berjalan ke tempat duduk dimana tasku aku simpan disana.
“semoga bahagia dengan wanita itu kak” ucapku sedetik menatapnya dan meninggalkannya.
“riska…riska…” teriaknya. Aku hanya menangis, rasanya sakit sekali kalau aku telah berbohong dengan perasaanku sendiri. aku mengatakan kalau kak dafa hanya pelarian doang, padahal itu semua bohong.
“tunggu….” Tanganku ditarik dan otomatis aku jatuh kepelukannya. Sedari tadi ternyata ia mengejarku.
“beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya” ucapnya memeluku erat. Aku hanya terdiam, dia mulai menarik nafas dan menghembuskannya pelan, sangat terasa di pundakku.
“wanita itu mantan kekasihku, ia meninggalkanku dan memilih pria lain yang lebih kaya dari aku, aku tak tau dari mana dia tau sekolahku, tiba-tiba dia datang dan memeluku seperti tadi, tapi itu tak seperti yang kamu bayangkan ris, aku tak ada hubungan apa-apa sama dia. Tolong percaya sama aku” ucapnya panjang lebar menjelaskan semuanya. Aku mencoba melepaskan pelukannya dan menatapnya.
“serius?”
“iyaa..”
“apa..aku boleh bicara kak?”
“tentu” kak dafa menjawab dan memegang tanganku.
“apa kaka percaya jika aku menjadikan kaka hanya sebagai pelarian?”
“..” kak dafa hanya menggelengkan kepalanya imut.
“apa yang kaka liat dari aku kak?”
“ketulusan” ucapnya. “aku tau kamu bohong dengan perasaan kamu sendiri, soal kamu menjadikan aku sebagai pelarian dan kata-katamu yang mendo’akan ku bahagia bersama wanita itu, aku tahu itu kebohongan terbesarmu” lanjutnya.
“kak….” Ucapku menatapnya. Kak dafa mulai menaruhkan tanganku di dadanya.
“setaun terakhir ini memang kamu masih berharap dengan harapan kosongmu kembali lagi kepada mantanmu, tapi tak bisakah kamu mengganti sebagian harapanmu denganku?”
“maksud kaka?” aku pura-pura tak mengerti.
“sejak hujan hari itu, kaka memang bermaksud mengajakmu kesini ris, tapi takdir berkata lain, hari ini, saat ini, dan pada kesempatan ini bisakah kamu mengganti sebagian harapanmu bersamaku?”
“kak dafa….”
Kak dafa hanya tertawa melihat tingkahku, salting memang, sudah lama aku mendambakan moment ini,  dan yang aku tunggu-tunggu…
“riska…”
“iyaa”
“mau ga kamu menggantungkan sebagian harapanmu bersama kaka?”
“…”
“tolong jawab ris”
“ iya kak”
“makasih ris”
Kak dafa memeluku mesra.
***
Sebagian harapanku memang kembali lagi menjalin cinta bersama putra. Tapi aku tau dia telah menjadikanku seperti mawar yang sudah terbuang dan aku menungu dia  untuk mengambilnya dan menjadikan mawar tersebut miliknya lagi. Aku tau, dia sudah lebih baik disana dengan wanita yang mungkin lebih baik dari aku. hari ini aku mengganti foto yang tersimpan di samping tempat tidurku. Foto yang awalnya gambarku dengan putra, kini terganti dengan gambar aku dan kak dafa.
“aku tak menganggapmu mantan put, tapi aku hanya menganggapmu orang yang dulu pernah menjadi harapanku dan sebagai kenangan terindahku, makasih telah membuatku kuat sampai saat ini” ucapku menatap foto dan menaruhnya di sebuah kardus disatukan dengan kenang-kenangannya yang lain.
“ dan sekarang, Daffa Arya Nandana, semoga sebagian harapanku bisa menjadi kenyataan ketika aku bersamanya. Amin :)” ucapku mengecup mesra foto itu dan menaruhnya di meja kecil samping tempat tidurku.
The End


Tidak ada komentar:

Posting Komentar