Sebagian
Harapanku
Cerpen : Nur Dini Nuri R
Cast :
Dafa
Riska
Tami
Riska
Tami
***
Hampir 1 tahun berlalu,
mengapa aku tak bisa melupakannya ? apa mungkin aku masih mengharapkannya ?
atau… aku masih menyimpan rasa sayang terhadapnya? Entahlah, yang pasti jujur,
aku masih mengharapkan sosoknya yang dulu selalu menemani hari-hariku. “Tegar”
mungkin aku sedang belajar dari kata itu, 5 huruf, 1 kata tetapi artinya luar
biasa.
“kau yakin sudah move on?”
“sepertinya iya tam, tapi.. saat ini aku sering kembali
teringat dia”
“yaelaah..ngapain cowo kaya gitu di pertahanin?
Tunjukin kalo kamu bisa tanpa dia”
“caranya?”
“dengan menjalin cinta yang baru”
Aku kaget dengan saran sahabatku yang satu ini. Apa
mungkin dengan aku menjalin cinta kembali dengan laki-laki lain, aku akan lupa
dengan semuanya? Termasuk lupa dengan dia ? aiiiish kenapa sahabatku ini tak
mengerti aku sih .
“hoy..kamu ngelamun ya ris?”
“eu…eum engga ko tam”
Dia mengagetkanku di sela-sela lamunanku yang sedang
memikirkan sarannya yang tadi.
Pandanganku tertuju pada sesosok laki-laki di
seberang sana. Siapa yang tak mengenal dia. Sosok pria yang mempunyai postur
tubuh tinggi dan berkulit sawo matang itu memakai kacamata. Walau banyak wanita
yang mengatakan dia culun, tetapi dengan gaya berpakaian yang rapi, membuat dia
di idolakan para wanita di sekolah ini, lihat saja, pasti banyak sepasang mata
yang sedang melihatnya berjalan. Dengan
otaknya yang pintar dan selalu menjadi juara umum di sekolah semakin
meyakinkan kalau dia sosok yang selama ini di damba-dambakan oleh semua wanita,
mungkin. Termasuk aku sendiripun mengagumi sosoknya, oops..aku kembali terkaget
sendiri ketika sedang memandangi pria yang bernama lengkap Dafa Arya Nandana
itu.
Cowo yang kerap disapa
Kak Dafa itu memang terbilang sangat ramah dan cukup dekat dengan ku, aku pun
tak mengerti ketika aku sudah melihat sosoknya, aku pun langsung lupa dengan
mantanku yang masih aku harapkan. Perlahan Kak Dafa menghampiriku yang sedang
duduk berdua dengan sahabatku Tami di bangku dekat lapangan basket sekolahku.
Dengan mengetahui dia yang semakin mendekat ke arahku, akupun berpura-pura
membaca novel yang saat itu aku pinjam dari perpustakaan.
“lagi baca apaan ris” ucapnya duduk di sebelahku.
Semua mata yang tadi menatap kak dafa indah, dengan cepat berubah menjadi
tatapan sinis kepadaku ketika kak dafa duduk di sebelahku dan memberikan
sebotol minuman yang ia keluarkan di dalam tas nya .
“makasih kak, ini aku lagi baca novel” ucapku gugup
dengan menatap ragu matanya.
“tips move on dengan cepat” ucapnya membaca judul buku
novel yang sedang aku taruh di pahaku. Akupun menyembunyikan dengan cepat buku
tersebut.
“mati aku” ucapku dalam hati.
“minuman buat aku mana kak” seru tami memulai
pembicaraan. Fiuuuuuh untunglah tami mengerti dan cepat peka.
“hah?…kaka gatau kalo ada kamu disini, jadi kaka
beli minumannya buat riska doang hehe maaf ya ”
“yaah kaka, kalo sama riska aja selalu inget, lha
sama aku? boro-boro” ucap tami cemberut dan berdiri kemudian meninggalkan aku
dan kak dafa.
“tami tunggu….” Ucapku berteriak dengan memandang
tami yang berlari. Aku bermaksud mengejarnya tetapi tangan kekar di sampingku
menahanku untuk mengejar tami.
“ris, bisa ikut kaka ?” ucapnya dengan tatapan
serius.
“ke- kemana ka?” ucapku gugup.
Ia pun menariku dan akupun mengikutinya dengan
meninggalkan minuman yang tadi ia beri untuku di bangku itu. Dengan menaiki
motor ninja nya, kak dafa terlihat keren, aaaggrrhh aku mulai melamun lagi.
“ayo naik”
Deg…. Jantungku keras sekali berdetak. Aku malu jika
kak dafa mendengar bunyi detak jantungku yang sekarang. aku pun tanpa banyak
bicara, mulai naik dan duduk dengan kembali mengontrol detak jantungku supaya
lebih tenang.
Aku dan Tami
memang menyukai kak dafa sejak 1 tahun terakhir ini, kakak kelas yang ramah dan
tidak sombong kepada adik kelasnya. rasa
suka tami kepada kak dafa tak lebih dari seorang kakak, tapi aku? apakah rasa
sukaku sama dengan tami? Mulutku berkata iya tetapi hatiku……. Tidak. Jujur aku memang
menyukainya, dan ingin menjadi pacarnya, tapi itu hayalan semata. Seringnya aku
dan dia bertukar cerita, mau itu tentang cinta, keluarga, teman atau apalah,
dan membuatku mengetahui sebagian kehidupannya.
***
Saat itu jam menunjukan
pukul 04.00 sore. Langit mulai terlihat mendung, tak lama hujan perlahan mulai
turun, akupun refleks menutupi kepalaku dengan tanganku. Kak dafa hanya focus
melajukan motornya.
“kak dafa ingin bawa aku kemana? Sepertinya ini arah
menuju taman yang baru, yang kemarin di ceritakan tami kepadaku” ucapku dalam
hati.
Hujan semakin besar dan kak dafa memutuskan untuk
mencari tempat untuk kami berteduh terlebih dahulu. Kami berhenti di sebuah
toko yang memang lumayan banyak pengendara motor yang berteduh disana. Dengan
seragam putih-abu yang sedikit basah, Akupun duduk di bangku yang ada saat itu
sambil menatap hujan dengan sesekali mengusap-ngusapkan kedua tanganku supaya
lebih hangat. Raut wajahku sedikit gelisah, karna memang hari mulai sore dan
semakin mendekati malam. Tetapi aku belum pulang dan takut orang rumah khawatir
kepadaku.
Kak dafa tersenyum dan membuka jaketnya yang saat
itu ia kenakan. Dan memakaikannya ke badanku. Aku terkejut dan menatapnya.
“ma-maaf” ucapnya menggaruk kepala bagian
belakangnya salting.
“lho, kok kaka buka jaket sih, ini pake aja buat
kaka, aku gapapa kok” ucapku perlahan membuka jaket, tapi kak dafa menahanku.
“gapapa ris, pake aja. Maaf yah gara-gara kaka ajak
kamu jalan, jam segini kamu belum pulang, karena hujan di tengah jalan” ucapnya
.
“makasih kak” ucapku membetulkan jaket yang menempel
di badanku. “gapapa kak, emang kakak mau ajak aku kemana?” lanjutku penasaran.
“hm….tadinya sih mau ajak kamu ke taman itu” sambil
menunjukan jari telunjuknya. “tapi karna hujan, lain kali aja gapapa kan? Kalo
ujannya reda, kaka antar pulang aja, kasian takut keburu malem” ucapnya lagi.
“…” akupun hanya tersenyum, masih sambil
menggosok-gosokkan tanganku dengan sesekali meniupnya.
kak dafa menatapku sambil menggosok-gosokkan
tangannya. Tanpa aku ketahui, kak dafa menempelkan tangannya di tanganku.
Tanganku yang saat itu bergerak, seketika diam dan mataku menatap matanya.
Tinggi ku memang lumayan jauh dari kak dafa, hanya sebatas pundaknya, makanya
aku harus sedikit mengadahkan kepalaku untuk bisa menatapnya kalau jarakku dengannya
berdekatan seperti sekarang ini. Tak ada mata yang menatap sinis ke arahku
karna perlakuan kak dafa ini, karna ini di luar sekolah. coba kalau di sekolah,
mungkin aku sudah di hujani kata-kata kotor oleh fans-fans kak dafa.
orang-orang yang sedang berteduh memang berada
sedikit jauh dengan tempat berdirinya aku dan kak dafa saat ini.
“hangat?” ucap kak dafa mengagetkanku.
“hangat kak” ucapku menatapnya dengan memberi
senyuman. Nyaman, itulah rasanya. Seperti dulu, aku pun pernah merasakan perasaan
seperti ini ketika sedang bersama mantanku. Kak dafa perlahan mendekatkan
wajahnya ke wajahku, ia mulai memejamkan matanya. Deg…..jantungku pun kembali
berdetak kencang. Tuhaaaan apa yang akan dia lakukan? semakin bibirnya
mendekat, tiba-tiba daaaaaaaaaaaaaaaar suara kilat mengagetkanku dan akupun
membenamkan wajahku ke dada bidangnya
refleks sampai aku melepaskan pegangan tanganku dengannya. Beberapa
detik aku membenamkan wajahku ke dada bidangnya, akupun kembali ke posisi
awalku tadi, kak dafa terlihat salah tingkah dengan perlakuannya tadi.
“ma-maaf kak” ucapku membenamkan jaket yang seperti
mau terlepas. Kak dafa hanya diam dan menatap hujan di depannya masih dengan
muka polos saltingnya. Waktu masih berjalan, hampir 1 jam kami berteduh, dan langit
pun sepertinya belum puas mengeluarkan air matanya. Rasa kesal menunggu,
membuat orang-orang yang sedang berteduh Perlahan memaksakan diri untuk pulang
menerobos hujan. Akupun sesekali menatap jam tangan yang saat itu aku kenakan,
resah karna hari mulai menuju malam, tetapi hujan pun masih belum reda. Baju
yang saat itu kami kenakanpun mulai kering, tandanya kami sudah lama berada di
sini.
“Tuhan, redakan lah hujannya” do’a ku dalam hati.
Sepertinya Tuhan mendengarkan do’a ku, tak lama
hujannya pun sedikit reda. Kak dafa pun memutuskan untuk mengantarkan ku pulang
dan tak jadi ke taman tersebut.
Dengan kecepatan 40 km kak dafa melajukan motornya.
Satu tangan kak dafa memegang tanganku dan mengarahkannya ke perutnya.
“pegangan ris, kakak mau ngebut” ucapnya sedikit
teriak. Akupun yang mendengar perkataan kak dafa menganggukan kepalaku dan
perlahan melingkarkan tanganku ke perutnya. Akupun seperti memeluknya dari
belakang. Kak dafa mulai ngebut karna hari sudah malam. Tersenyum, nyaman,
itulah yang aku rasakan setiap kali aku bersamanya. 20 menit perjalanan ,
akhirnya sampai di rumahku, akupun langsung turun.
“maaf yaaaah” ucapnya mengacak rambutku yang agak
basah karna kehujanan.
“gapapa kak, santai aja” ucapku sedikit tersenyum.
“kalau gitu kakak pulang yah”
“iya..hati-hati kak”
Akhirnya kak dafa pun pulang, akupun masuk dan
dengan cepat mengganti bajuku.
“Ya ampun ini kan jaket kak dafa, kenapa aku bisa
lupa ngembaliin sih“ ucapku ketika aku menatap diriku di cermin yang berada di
kamarku. Akupun langsung mengambil hp yang saat itu berada di tasku dan
bermaksud untuk member tahu kak dafa soal jaketnya, tetapi dia lebih dulu
mengirim sms kepadaku.
From
: Kak Dafa
“Jaketnya
pake terus ya ris, biar kamu ga kedinginan..hehe”
Kak dafa membuatku salting, akupun tersenyum dan
menaruh hp ku di dadaku untuk beberapa detik, akupun membalas smsnya.
To
: Kak Dafa
“makasih
kak, lusa aku kembalikan yah, soalnya mau di cuci dulu besok”
Drrrrrrt…….drrttt.. hpku kembali bergetar
From : Kak Dafa
“tak
apa ris, simpen aja hehe langsung istirahat ya ris({})”
Emoticon peluk? Omaygat apa ini maksudnya?
***
Matahari perlahan naik dan mulai menampakan cahaya nya, menyinari
bumi dengan cahaya hangatnya. Sudah sebulan terakhir ini kak dafa memberikan
perhatian lebih kepadaku yang membuat aku senang dan membuat aku berfikir kak
dafa memiliki perasaan yang sama sepertiku.
Aku kembali melaksanakan rutinitasku di pagi
hari, setiap sebelum pergi keluar untuk sarapan , aku terlebih dahulu
membereskan kamarku. Ketika aku ingin membereskan bantal, aku mendekati meja
kecil di samping tempat tidurku dan disana tersimpan fotoku bersama putra
mantanku itu. Akupun mengambilnya dan duduk di tepi tempat tidurku, dengan
menatap foto kami (aku dan putra). Lucu sekali yah? sampai saat ini, akupun
masih belum bisa melupakannya. Air mataku menetes seketika. Omaygat , akupun
langsung menghapusnya dan kembali menaruh foto itu ke tempat semula.
“riska…cepat nak sarapan, nanti keburu siang loh”
“iyaa mah, sebentar”
**
“halloooooo riskaaaaa” sapanya teriak. Ya . dia
memang sahabatku dari smp, tami memang selalu begitu, teriak memanggil namaku
ketika ia melihatku sudah sampai di gerbang. Aku hanya melemparkan senyuman
dari kejauhan dan melambaikan tanganku.
Jam pelajaan hari ini memang tidak terlalu padat,
otomatis jam pulang pun menjadi lebih awal, aku bermaksud menghampiri kak dafa
yang hari ini sedang berolah raga. Aku membeli sebotol minuman untuk ku
kasihkan kepada kak dafa,
“kak daf………..” teriakan ku terhenti ketika aku berlari menuju ke lapang, pemandangan di
depanku kini membuat ku terdiam, kak dafa sedang dipeluk seorang wanita yang
memakai seragam bebas. Walaupun dia tidak membalas pelukannya tetapi
teman-teman yang saat itu berada di lapangan menyorakinya dengan senang. Ketika
kak dafa melihat ku yang sedang memperhatikannya, dia mencoba melepaskan
pelukan wanita itu, tetapi Wanita itupun terlihat semakin erat.
Dengan perasaan sakit, aku berlari meninggalkan
sekolah karna jam pelajaran sudah selesai. Tanpa sadar, langkah kakiku
menuntunku ke sebuah taman. Disana yang terlihat ramai sekali orang yang sedang
menghabiskan waktu weekend nya. Akupun mencoba mencari tempat duduk yang kosong
dekat pohon rindang itu. Dengan perasaan kecewa dan derai air mata yang
perlahan menetes di pelupuk mataku, aku tertunduk.
“hiks…hiks..kenapa kamu lakukan itu kak, kenapa?”
ucapku, aku langsung menatap air minum itu dan membuangnya keras.
“kenapa kau membuangnya?” suara berat seorang
laki-laki yang tak asing lagi buatku terdengar dari belakang. Aku tahu itu kak
dafa, memang tebakan ku tak salah. Mengapa dia datang kesini? Bukannya dia
sedang berpelukan mesra di lapangan tadi?
“kau marah sama kaka?”
Suara beratnya kembali terdengar. Terdengar dari
langkah kakinya, sepertinya dia menghampiriku, aku berdiri sambil memyilangkan
tangan di dadaku.
“tidak” ucapku singkat.
“ris…”
“udahlah kak” ucapku memotongnya. “aku tau kaka
hanya menganggapku sebagai adik kan? Sama kaya kaka nganggap tami. Tak mungkin
kaka memiliki perasaan yang sama kaya aku, aku yang bodoh kalo berharap lebih
sama kaka, tami selalu menyarankanku untuk move on dari mantanku dan menjalin
cinta sama kaka, tapi…tapi…hiks” air mataku kembali keluar.
“riska…kaka bisa jelasin semuanya” ucapnya
menghampiriku dan kini kami bertatapan.
“apa yang mau kaka jelaskan? Kaka mau bilang kalau
wanita itu pacar kaka? Atau calon istri kaka ? apa yang satu bulan terakhir itu
kak ? perhatian kaka ke aku Cuma nganggap adik doang kak ? iya? Iya? … jawab
ka” ucapku menangis memukul-mukul pelan dadanya.
“riska…”
“kakak pembohong, semua cowo sama aja”
“riska….”
“kaka sama aja kaya mantan aku yang bisanya Cuma
nyakitin aku doang”
“riska cukup!!!”
Ucapnya dengan nada tinggi dan menghentikan tanganku
yang sedari tadi memukuli pelan dadanya. Aku terdiam dan memalingkan tatapan
matakku dari matanya.
“ketika kaka mulai dekat dengan ku sebulan terakhir
ini, itu membuatku berfikir kalau kaka punya rasa yang sama kaya aku, tapi
setelah aku melihat kaka dan wanita itu berpelukan kaya tadi, entah kenapa aku
merasakan sakit yang teramat sangat. Aku seperti bunga yang tiba-tiba layu kak”
“kamu awalnya menjadikan kaka sebagai pelarian doang
kan? Kamu dekat dengan kakak, kamu hanya ingin cepat lupa dengan mantan kamu?
Iya kan? Hah? Jawab jangan diam aja!!!” ucap nya dengan nada tinggi yang
membuat aku takut. Karna baru kali ini aku melihatnya semarah ini.
“iya! Aku hanya menganggap kaka sebagai pelarian
doang kak, puas? Hah?” ucapku tak kalah tegas , dan melepaskan tanganku yang di
pegang keras olehnya. Aku berjalan ke tempat duduk dimana tasku aku simpan
disana.
“semoga bahagia dengan wanita itu kak” ucapku
sedetik menatapnya dan meninggalkannya.
“riska…riska…” teriaknya. Aku hanya menangis,
rasanya sakit sekali kalau aku telah berbohong dengan perasaanku sendiri. aku
mengatakan kalau kak dafa hanya pelarian doang, padahal itu semua bohong.
“tunggu….” Tanganku ditarik dan otomatis aku jatuh
kepelukannya. Sedari tadi ternyata ia mengejarku.
“beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya”
ucapnya memeluku erat. Aku hanya terdiam, dia mulai menarik nafas dan
menghembuskannya pelan, sangat terasa di pundakku.
“wanita itu mantan kekasihku, ia meninggalkanku dan
memilih pria lain yang lebih kaya dari aku, aku tak tau dari mana dia tau
sekolahku, tiba-tiba dia datang dan memeluku seperti tadi, tapi itu tak seperti
yang kamu bayangkan ris, aku tak ada hubungan apa-apa sama dia. Tolong percaya
sama aku” ucapnya panjang lebar menjelaskan semuanya. Aku mencoba melepaskan
pelukannya dan menatapnya.
“serius?”
“iyaa..”
“apa..aku boleh bicara kak?”
“tentu” kak dafa menjawab dan memegang tanganku.
“apa kaka percaya jika aku menjadikan kaka hanya
sebagai pelarian?”
“..” kak dafa hanya menggelengkan kepalanya imut.
“apa yang kaka liat dari aku kak?”
“ketulusan” ucapnya. “aku tau kamu bohong dengan
perasaan kamu sendiri, soal kamu menjadikan aku sebagai pelarian dan
kata-katamu yang mendo’akan ku bahagia bersama wanita itu, aku tahu itu
kebohongan terbesarmu” lanjutnya.
“kak….” Ucapku menatapnya. Kak dafa mulai menaruhkan
tanganku di dadanya.
“setaun terakhir ini memang kamu masih berharap
dengan harapan kosongmu kembali lagi kepada mantanmu, tapi tak bisakah kamu
mengganti sebagian harapanmu denganku?”
“maksud kaka?” aku pura-pura tak mengerti.
“sejak hujan hari itu, kaka memang bermaksud mengajakmu
kesini ris, tapi takdir berkata lain, hari ini, saat ini, dan pada kesempatan
ini bisakah kamu mengganti sebagian harapanmu bersamaku?”
“kak dafa….”
Kak dafa hanya tertawa melihat tingkahku, salting
memang, sudah lama aku mendambakan moment ini,
dan yang aku tunggu-tunggu…
“riska…”
“iyaa”
“mau ga kamu menggantungkan sebagian harapanmu
bersama kaka?”
“…”
“tolong jawab ris”
“ iya kak”
“makasih ris”
Kak dafa memeluku mesra.
***
Sebagian harapanku memang kembali lagi menjalin
cinta bersama putra. Tapi aku tau dia telah menjadikanku seperti mawar yang
sudah terbuang dan aku menungu dia untuk
mengambilnya dan menjadikan mawar tersebut miliknya lagi. Aku tau, dia sudah
lebih baik disana dengan wanita yang mungkin lebih baik dari aku. hari ini aku
mengganti foto yang tersimpan di samping tempat tidurku. Foto yang awalnya
gambarku dengan putra, kini terganti dengan gambar aku dan kak dafa.
“aku tak menganggapmu mantan put, tapi aku hanya
menganggapmu orang yang dulu pernah menjadi harapanku dan sebagai kenangan
terindahku, makasih telah membuatku kuat sampai saat ini” ucapku menatap foto
dan menaruhnya di sebuah kardus disatukan dengan kenang-kenangannya yang lain.
“ dan sekarang, Daffa Arya Nandana, semoga sebagian
harapanku bisa menjadi kenyataan ketika aku bersamanya. Amin :)” ucapku
mengecup mesra foto itu dan menaruhnya di meja kecil samping tempat tidurku.
The End


Tidak ada komentar:
Posting Komentar